Senin, 15 Desember 2008

Kota Mati

Judul novel : Angkerbatu
Pengarang : Ruwi Meita
Penerbit : Gagasmedia
Tahun terbit : 2007
Tempat terbit : Jakarta
Tebal : iv + 146

Ruwi Meita adalah seorang pengarang novel yang berbakat. Kebanyakan novel yang dikarangnya adalah novel misteri. Angkerbatu merupakan novel keenamnya.
Novel yang mengambil cerita dari sebuah film ini sangat menarik. Apalagi bagi para pembaca novel yang menggemari cerita horror. Novel ini sangat menarik karena mengangkat sebuah mitos masyarakat di daerah Ngawi. Gaya bahasa yang digunakan pun mudah dipahami oleh pembaca.


Latar yang ditampikkan beragam. Mulai dari Jakarta, Yogyakarta, sampai Ngawi. Penggambaran yang jelas membuat kita dapat membayangkan setiap sudut tempat tersebut.
Perwatakan yang digunakan beragam, seperti tokoh Yudha yang mempunyai sfat pantang menyerah. Begitu juga Kanaya yang gila kerja. Penulis mampu membuat variasi karakter dari setiap tokoh.
Sudut pandang yang digunakan adlah sudut pandang orang ketiga. Penulis hanya berperan sebagai pencerita. Penulis mampu menempatkan diri dalam setiap alur cerita. Alur maju yang digunakan mempermudah pembaca mengerti cerita novel ini.
Cerita ini diawali dari demo pendudul Alas Ketonggo atau Angkerbatu, karena hutan lindung yang melindungi flora fauna dan alam lelembut tersebut akan disulap menjadi hotel dan lapangan golf mewah oled perusahaan di bawah naungan Negara Korea.
Sebuah stasiun TV swasta, Voice of Korea kehilangan kontak dengan reporternya yang ada di Alas Ketonggo, Manda dan Rino. Akhirnya Yudha dan Kanaya beserta Warno supirnya berangkat mencari mereka.

Pada bab 5 halaman 40 merupakan awal konflik. Pada saat mereka tiba di Ngawi, mereka terkejut karena kota itu benar-benar mati. Tak ada kuhidupan, yang ada hanya benda-benda mati yang ditinggalkan loeh pemiliknya. Lalu mereka meneruskan pencarian hingga memeasuki kawasan Alas Ketonggo.
Dan akhirnya Rino ditemukan, namun Manda tidak. Kamudian mereke meneruskan pencarian dengan meminta bantuan kepada Pak Gondo, sesepuh warga Angkerbatu. Akhirnya mereka menemukan Manda dengan selamat di daerah hotel yang belum jadi, tempat dimana kerajaan lelembut berada setelah alas yang merupakan tempat tinggal mereka dirusak oleh manusia.
Novel ini tidak hanya hibutan semata, tetapi juga memberikan nasihat untuk para pembaca agar selalu melestarikan dan tidak merusak ciptaan Tuhan.
Tak ada yang sempurna. Dari kelebihan yang ada, novel ini juga mempunyai kekuranagan yaitu hanya sedikit hikmah yang dapat kita petik.
Tidak rugi jika novel ini masuk bersama koleksi buku-buku Anda di rumah.

0 komentar: